Keluarga Pondasi Awal, Membentuk Generasai Muda Sehat Jiwa


Assalamualaikum Bunda dan Ayah....

Beberapa waktu lalu saya menghadiri pengajian rutinan yang ada setiap hari senin dengan tema yang berbeda-beda setiap minggunya, dan kali ini temanya sangat menarik untuk saya dan beberapa bunda lainya yaitu “Tanggung Jawab Orangtua Kepada Anaknya”.

Jika kita berkata “Tanggung Jawab” saya yakin kita sebagai orang tua ingin memberikan yang terbaik uantuk anak-anak kita tapi, apakah kita sadar yang sudah kita berikan kepada anak sudah yang mereka inginkan atau minimal mereka sukai?. Salah satu contoh, kita memilih pesantren untuk anak-anak kita tercinta pada usia yang masih sangat kecil yaitu 7 tahun, namun pada hakikatnya anak dari mereka lahir hingga mereka usia 10 tahun adalah masih membutuhkan dekapan dan kasih sayang dari orang tuanya terlebih lagi dekapan seorang Bunda dikala mereka sedang resah.

Namun pada kenyataanya orangtua mengukur semuanya dengan materi saya mempunyai uang banyak anak saya akan saya masukan asrama, pesantren hingga saya berikan fasilitas yang mewah yang anak-anak lain belum tentu miliki, Jawab jujur apa dengan hal itu kalian melihat senyum kenahagiaan pada mereka???.Kenyataanya adalah TIDAK.....


Satu butir nasi yang kau berikan pada anak-anakmu nanti di akhirat akan dipertanyaakn oleh sang maha pencipta, tanggung jawabmu sebagai orang tua sudah memberikan makanan yang halal, suka kau sekolahkan mereka dengan uang yang halal dan kalian berikan pendidikan yang berpondasi dengan akidah dan ahlak?? Bunda ayah saat saya mendengar ucapan itu air mata ini mengalir karna semua ada pertanggung jawaban.

Satu diantara 6 anak usia 10-19 tahun ada sekitar 16% global burden disease and injury terjadi pada usia 10-19 tahun. Separuh dari kondisi kesehatan jiwa dimulai pada usia 14 tahun tapi sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan. 

Secara global, Depresi adalah satu dari penyebab penyakit dan disabilitas pada remaja, Bunuh diri merupakan penyebab ketiga terbesar kematian pada usia 15-19 tahun. Mungkin kalian akan kaget seperti saya, anak dengan usia 10-19 tahun pada dasarnya disini mereka membutuhkan tali yang kokok untuk mereka pegangan dalam memulai menyusuri jalan tersebuh agar tidak tersesat. Dan apa tali itu ya kita “Orang tua sebagai tali pegangan” .

Ternyata pak Ustad menyampaikan perihal itu juga ada ilmu medisnya, Tepatnya harai ini 10 Oktober menjadi Hari Peringatan Jiwa Seluruh Dunia. Dr.Eka Vlora, Sp.KJ Ketua PDSKJI Pusat,menjelaskanjika anak yang biasanya berprestasi, ceria dan berubah derastis dengan tiba-tiba menjadi anak yang mengurung diri, prestasinya merosot dan lebih emosional itu patut kita curigai kemungkinan di korban Bullying hingga jatuh ke titik depresi.



Kebanyakan remaja memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, namun akibat perubahan emosi dan sosial, termaksud akibat kemiskinan, abuse atau tindak kekerasan dapat menyebabkan remaja rentang terhadap masalah Keswa.Masa remaja dan tahun-tahun awal masa dewasa akan terjadi perubahan aktivitas seperti meninggalkan rumah karna masuk universitas yang ajauh atau pekerjaan baru. Pada sebagain remaja ini adalah hal yang menyenangkan , namun juga dapat terjadi stress dan ketakutan akan beberapa hal.

Pada beberapa kasus,jika perasaan ini tidak tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah kesehatan jiwa. Maka dari itusangat penting peran orang tua dalam menuntun anak-anak untuk mencari jati dirinya, seperti yang saya sampaikan diatas orang tua menjadi tali untuk menunjukan arah pada anak tapi ingat tanpa harus ada diskriminasi pada anak yang mengharuskan anak mengikuti keinginan kita.

Masa remaja adalah periode penting untuk mengembangkan dan mempertahankan kehidupan sosial dan emosional, termaksud pola tidur yang sehat, olahraga teratur, mengembangkan keterampilan untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah, keterampilan internasional dan belajar mengelola emosi. Disini peran seorang Bunda sangat penting dari kecil kita harus mengajarkan mengontrol emosi, karna dengan kita mengontrol emosi maka kadar stress kita akan berkurang, kita harus belajar dimana kita menahan emosi dan meluapkan emosi tersebuh dalam tanda kutip terkendali.

Bullying kata yang sudah tak asing dalam telinga kita, dimana pun akan ada bully-membully. Entah dalam lingkungan sekolah,kantor atau lingkungan sosial, korban atau pelaku terikat dengan satu yang namanya emosi emosi ingin melawan dan emosi ciun untuk diam saja maka dari itu sanagt penting menata emosi anak-anak kita sedari kecil.

Beberapa remaja berada pada kondisi kesehatan jiwa yang berisiko sangat besar yang disebabkan kondisi dalam kehidupan seperti :
·         Stigma, diskriminasi atau pengecualian, atau kurangnya akses ke kualitas dukungan dan layanan.
·         Remaja yang tinggal ditempat bantuan kemanusiaan seperti pengungsian akibat bencana
·         Remaja dengan penyakit kronis, spektum autism disorder,disabilitas intelektual atau kondisi neurologis lainya, kehamilan remaja, pernikahan dini/kawin paksa hingga anak-anak yatim dan remaja etnis minoritas atau latar belakang kelompok lain yang didiskriminasi.




Gangguan prilaku masa kanak-kanak adalah penyebab utama no 6 beban penyakit di antara remaja, gangguan prilaku pada masa anak-anak yang berulang-ualang, parah dan sesuai dengan usia prilaku yang merusak atau menantang seperti conduct disorder. Dan gangguan prilaku pada anak-anak dampaknya dapat mempengaruhi pendidikan remaja, dan kadang-kadang berhubungan juga dengan masalah hukum dan peradilan.

Sudah cukup lama saya pernah berkunjung ke salah satu Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, jujur agak terkejut karna hampir beberapa yang saya temui itu mereka masih muda-muda, mencoba bertanya pada petugas disana mereka menderita gangguan jiwa kaena depresi. Keinginan orang tua yang terlalu membabi buta pada anak-anaknya membuat beban mentar tersendiri untuk mereka, dan mental dan jiwanya sudah tidak sanggup bertahan hingga akhirnya mereka menyerah tapi dalam ke adaan depresi berat hingga timbul halu sinasi yang terus terulang hingga rasa ingin mengakhiri hidupnya.

Lalu jika sudah begitu bagai mana kita mencegahnya agar kkeinginan kita tidak merusak mental anak-anak, sangat penting untuk mengatasi berbagai kebutuhan remaja dengan kondisi kesehatan jiwa remaja yang beragam. Menghindari institusionalisasi/ pelembagaan dan medikasasi yang berlebihan, memprioritaskan pendekatan non-farmakologi, dan menghormati hak-hak anak sesuai konveksi PBB tentang hak-hak anak dan hak manusia lainya.

Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia (HKJS) yang diperingati pada setiap tanggal 10 Oktober bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya kesehatan jiwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat baik fisik maupun jiwanya. Dr.dr Fidiansjah, SpKJ, MPH Direktur pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan Jiwa dan Napza, Kementrian Kesehatan.
Gangguan mental emosional adalah masalah yang cukup besar di Indonesia, Masalah pikiran, perasaan dan perilaku yang dapat membuat kesulitan menjalani peran dan kehidupan sehari-hari. 

Melalui perayaan hari kesehatan Jiwa Se-dunia ini juga kita kampanyekan gerakan masyarakat untuk hidup sehat (GERMAS) sehingga kita dapat mengharapkan tumbuhnya generasi penerus yang sehat baik secara fisik, jiwa dan sosial.


Komentar

  1. Bully ini perlu diwaspadai ya. Karena kadang ga sadar kalau bully membully shg depresi :((

    BalasHapus
  2. Ngeri banget, ternyata sakit jiwa pada org dewasa di mulai sejak usia remaja ya pencetusnya

    BalasHapus
  3. HIkss...sedih ya masa remaja terganggu karena depresi dan itu disebabkan le orangtua, duh langsung kekepin anak-anak yang masih kecil, saya selalu berdoa agar anak-anak dilindungi dari say, orantua mereka sendiri yang mungkin salah dan keliru dalam mendidik mereka

    BalasHapus
  4. Selama ini banyak yanh berpikir soal kesehatan fisik, padahal kesehatan jiwa juga gak kalah pentingnya. Diawali dari stres, depresi hingga paranoid.. Ah, ngeri deh!

    BalasHapus
  5. haduh, jadi teringat korban gempa di Palu. Bagaimana ya mereka, terutama remaja di sana. Semoga ada bantuan untuk mengobati psikis yang terluka.

    BalasHapus
  6. Ya Allah, ngeri banget yaa, ternyata banyak anak-anak muda kita banyak yang menderita depresi, hiks :(

    BalasHapus
  7. Membuat kita semua waspada...sudahkah kita penuhi tanggung jawab kita? Hiks...

    BalasHapus
  8. Ngeri banget sekarang anak2 mudah stres dan depresi. Orangtua harus selalu mendampingi yaa..

    BalasHapus
  9. Aku pernah mbak, punya keinginan yang tinggi buat si kakak. Astagfirullah, untung cepat sadar nya sebelum dia masuk sekolah dasar, sekarang aku lebih santai mendidik, yang penting si kakak bahagia dalam setiap proses nya, tapi tetap punya rasa tanggung jawab

    BalasHapus
  10. Dulu ada beberapa teman merundungku karena pendek. Sedih, gak bisa ngomongbke ortu. Akhirnya tuh manfaatin guru BK buat curhat. Duh untung gak sampai kena gangguan

    BalasHapus
  11. Ternyata generasi muda kita banyak yang mengalami depresi? Duuh ...kenyataan yang mengagetkan. Sumber depresi atau stress tidak hanya berasal dari lingkungan luar saja, bisa juga dari dalam rumah juga. Makanya tugas kita sebagai orang tua harus selalu bisa mendampingi mereka ya...

    BalasHapus
  12. Ya Allah mba sedihnya pas tahu kalau anak muda yang sampai depresi akibat beban yang diberikan orangtua terlalu tinggi. Smoga kluarga kita dilindungi ya

    BalasHapus
  13. Tetap keluarga menjadi tali, jaring penyelamat bagi anak-anak ya. Cuma bisa menolong anak sendiri bila ketemu masalah, dibiasakan curhat ke orang tua. Dan sebagai ortu juga nggak boleh bereaksi keras saat anaknya cerita sedang bermasalah. Harus mendengar dulu, dan menemukan jalan terbaik.

    Sedih kalo melihat banyak sekali anak muda sekarang yang gampang depresi. Lingkungan juga sepertinya mempengaruhi tingkat depresi anak muda. Beda jaman dahulu, masih banyak ruang kosong untuk beraktivitas olah raga atau sekedar bermain bola dengan gratis. Eh panjang banget aku nulisnya, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mba kalo orang tua yg mendengarkan siapa lagi?? Yg ada salah pergaulan

      Hapus
  14. Sedihnyaaa...
    Kalau melihat anak-anak tidak bahagia.

    Kadang aku sering sekali memperhatikan sekelilingku. Mulai dari pengasuhan masing-masing orangtua sampai cara berkomunikasi mereka dengan anak-anak.

    Akalau bagus, aku bakal ATM (amati, tiru dan modifikasi) tapi kalau aku (sendiri) kerasa gak nyaman, gak akan aku lakukan ke keluarga.

    Komunikasi ini yang harus selalu dilatih tiap hari.
    Ke suami, anak-anak, terutama.

    BalasHapus
  15. Muridku di kelas 1 SD, Mbak, ada anak santri. Pertama kali menerima, duh, kasian banget. Dia di pondok pesantren karena nakal, bapak ibuknya kerja semua. Padahal ya nggak nakal2 banget. Malah terhitung tenanng anaknya dibandingkan teman2 lainnya.

    Kalo di kelas hanya tidur saja. Kubiarkan, Mbak. Kasian. Di pondok kegiatan padat sekali.

    BalasHapus
  16. Duuh Mbak, jadi takut dan was2 sendiri nih bacanya.
    Memasukkan anak2 di asrama, yg niat kita utk memantapkan ilmu agama mereka blm tentu jg bisa buat mereka nyaman ya, apalagi klo ada bully2 membully gitu, fufufuhh.

    BalasHapus
  17. wah makasih ya sudah diingatkan anakku sudah memasuki usia remaja nih

    BalasHapus
  18. Kemarin aku baru merasakan anakku di bully. Ga diajak maen karena kecil sendiri.
    Akhirnya aku sampaikan kalau mereka bukan ga mau main tapi karena permainannya belum cocok untuk Salfa.

    BalasHapus
  19. Lingkungan sekolah tuh jadi tempat yang rawan sekali dengan bullying. Di sekolah anakku, ada yang sampe males-malesan berangkat sekolah. Setelah diusut ternyata ada anak yang suka mintain uang. Parahnya, ortunya merasa anaknya baik-baik saja.

    Ada lagi yang kemarin harus sampai di opname. Penyebabnya karena tendang-tendangan, dorong-dorongan, sampai ada yang jatuh dan patah tulang. Ya Allah, semoga anak-anak kita selalu dilindungi..

    BalasHapus
  20. Inilah kenapa penting orang tua meningkatkan wawasannya terutama soal gaya pengasuhan buah hati.
    Karena setiap rentang usia berbeda cara pendekatan gaya pengasuhannya.

    Kalau dalam agama Islam ada yang dikenal dengan Gaya Parenting Ali bin Abi Tholib:

    "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka bukan hidup di zamanmu!"

    Menurut Ali bin Abi Thalib RA. ada 3 pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:

    1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja

    2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan

    3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat

    Silahkan di google dengan kata kunci "Parenting ala Ali bin Abi Tholib R.A" untuk penjelasan seanjutnya ya...



    BalasHapus
  21. suamiku pas kecil dulu juga korban bully mb.. tapi alhamdulillah dikelilingi keluarga luar biasa yang sangat suportif.. jadi perlahan bisa bangkit..

    BalasHapus
  22. betul kebanyakan remaja semua sehat dan baik2 aja
    karena emosi yang di aduk2 akhirnya jadi tertekan mentalnya ya Allah semoga remaja Indonesia gak pernah lagi ada yang suka membully , ikut GERMAS selalu , sukses bersama GERMAS

    BalasHapus
  23. BEnar-benar ya tanggung jawab ibu itu, bukan hanya berusaha agar kesehatan jiwanya bagus tetapi juga kesehatan jiwa anak-anak dan keluarganya

    BalasHapus
  24. Terus kalau mau mondok di pesantren sebaiknya usia berapa minimal Mbak?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sayangi Anak Dengan Makanan Bergizi Seimbang, Untuk Mencegah stunting dan Gizi Buruk

Manfaat Berolahraga bagi tubuh